Popularisasi via Verbalisme
Oleh: Fajjin Amik, S.Pd.,M.Si
Ada hal menarik dari beberapa kejadian unik dan menggelikan akhir-akhir
ini di tayangan televisi. Dalam hal ini yaitu penggunaan kalimat dan konsep
kata-kata yang digunakan oleh public figur di media. Tulisan ini tak lain
adalah berusaha untuk mengantarkan pemahaman masyarakat secara komprehensif
tentang etika penyampaian bahasa kepada khalayak umum. Adalah konsep-konsep
kata yang diucapkan oleh seorang bernama Vicky prasetyo (saat itu bertunangan dengan
artis ‘dangdut’ yang sedang tenar bernama Saskia Gothic). Hal ini menjadi buah
bibir yang menuai kontroversial di kalangan masyarakat kita. Berikut adalah penggalan kalimat tersebut.
“Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi,
karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih
menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya”. Kemudian
kalimat selanjutnya dituturkan: “kita
belajar, apa ya, harmonisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikr kita
engga boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi
keinginan”. Kalimat
selanjutnya: “dengan
adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi
kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa
mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku
sangat bangga”.
Popularisasi diartikan sebagai perihal yang membuat kita menjadi
popular (terkenal). Inilah salah satu yang dilakukan pembicara konsep-konsep
diatas. Konspirasi kemakmuran, kontroversi hati, statusisasi, merupakan
konsep-konsep yang saat ini heboh dan popular di semua kalangan masyarakat. Betapa tidak kemunculannya dalam waktu
sekejap sudah langsung meroket kabarnya dan langsung menjadi fenomena berbahasa
yang menuai kontroversi dikalangan masyarakat kita. Dan itupun berdampak pada
ketenaran pribadi yang mengemukakannya. Media jejaring sosial, acara televisi, surat kabar, pelawak,
artis, akademisi, smuanya baik sadar atau tak sadar telah ikut mempopulerkan deretan
konsep-konsep diatas (meski tak semua). Akademisi, yaitu dengan menyelipkan
dalam pemaparan dikelas, artis dan pelawak dalam sela-sela lawakannya, media
massa (televisi, surat kabar) dalam informasi, berita-berita dan ulasannya, dan
mungkin yang tak kalah cepat merebaknya adalah melalui media jejaring social
seperti facebook, twitter, dan lainnya.
Konsep-konsep kata seperti merindukan apresiasi, basically,
kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisasi, kudeta, statusisasi
kemakmuran, labil ekonomi, bukannya tak memiliki arti yang tegas melainkan
absurd ketika konsep tersebut disampaikan bukan pada konteks yang tepat. Terlebih
lagi jika itu disampaikan didepan khalayak umum atau orang banyak.
Sebenarnya, ini bukanlah merupakan hal baru di
Indonesia. Kita tentu masih ingat dengan konsep-konsep seperti secara, cetar membahana, sesuatu banget, dan
lainnya pernah membooming dan menjadi ikon bahkan jargon kepopuleran artis
tertentu yang kemudian diikuti oleh banyak orang, akan tetapi konteks dan moment
penempatannya dari setiap kata-kata tersebut berbeda dengan yang dikemukakan
vicky hal itu lebih karena makna kata dari setiap pengucapannya dikemukakan di
moment dan ‘tempat’nya. Tak mempengaruhi arti kata itu sendiri dan sebatas
varian bahasa semata.
Popularitas dan
penyebabnya
Ada beberapa hal yang menyebabkan meroketnya penggunaan konsep
kata-kata ‘intelek’ tersebut. Pertama, kalimat tersebut diungkapkan oleh orang
yang sedang menjadi fokus media (sedang di sorot oleh media). Sehingga dari
peliputan media dapat menyebarkan informasi ke berbagai kalangan masyarakat dan
sudah pasti akan diketahui oleh semuanya. Kedua, penggunaan bahasa Vicky tak
sesuai dengan ‘momentnya’. Sehingga banyak menuai kontroversi di masyarakat,
terlebih lagi jika kaum intelek (terpelajar) yang menilainya. Ketiga, sosok
Vicky sedang menjadi sorotan di masyarakat dengan kasus yang sedang menimpanya,
dan keempat yaitu ia sedang menjalin hubungan dengan ‘artis’ sehingga menjadi
pusat perhatian bagi media dan orang banyak.
Selain itu, jika kita analisa konsep kata
tersebut, ada beberapa hal yang menarik diantaranya: Pertama, jika seandainya itu disampaikan memang berdasarkan
kemampuan intelektual dari seorang Vicky, maka itu akan menjadi boomerang bagi dirinya
karena tidak pas konteksnya bahkan tak
mudah dicerna maksud dan tujuannya. Kedua, jika maksud penyampaian
konsep-konsep kontroversial itu ditujukan hanya untuk mendongkrak popularitas,
maka masyarakatpun akan menilai tak baik
untuk dirinya meskipun popularitasnya bertambah tetapi dalam arti negatif
(hanya artis instant semata). Ketiga,
munculnya budaya dan generasi instant, dalam arti pemahaman seseorang yang
selalu ingin segala sesuatunya dicapai secara cepat, termasuk untuk
mempopularitaskan diri dengan cara etis maupun tak etis (baik atau tak baik).
Khusus yang terakhir, model ‘kenekadan’ dalam penyampaian pidato/kalimat Vicky
ditengah media ini menjadi tanda bahkan dimulainya cara-cara instant dalam
melakukan berbagai hal untuk mencapai tujuan. Dan ini tentu saja yang perlu
dihindari oleh kita semua.
Demam Verbalisme
Dalam berbahasa, ada yang disebut verbalisme
yaitu memakai suatu atau sejumlah peristilahan namun tidak mengetahui maknanya
(yang benar dan tepat)). para mahasiswa baru atau orang baru dalam dunia
keilmuan (ilmiah) tidak jarang 'terpaksa' mengalami verbalisme lantaran salah
kaprah dan terlalu cepat 'kepincut' menjadi bagian dari kaum intelektual di
dunia ilmiah yang ia anggap sama artinya dengan gemar memakai peristilahan asing.
Dalam konteks itu, peristilahan asing
bukan lagi dimaksudkan sebagai tanda-tanda pembawa pesan yang sulit ditemukan
istilahnya dalam bahasa nasional/lokal kepada audiens sehingga terpaksa
digunakan untuk mengomunikasikan pesan kepada audiens. melainkan, tidak jarang
segelintir oknum baru dalam blantika 'dunia intelektual' tersebut memaknainya
bahwa semakin asing dan sulit dimengerti peristilahan yang ia gunakan maka
semakin inteleklah ia alias semakin pinter. padahal, tak seperti itu
seharusnya.
Vicky yang memadupadankan peristilahan
asing namun terasa kurang tepat dalam tuturannya, sehingga alih-alih terlihat
intelek dan cerdas, yang ada malah tampak kurang tepat, istilah sulit dicerna
maksudnya, terlalu memaksakan, dan karena itu, terkesan aneh dan lucu serta menggelikan.
Gaffar Rushkan (peneliti bahasa) dalam surat kabar Tempo
(Selasa, 10 September 2013) yang menyatakan bahwa tindakan Vicky ini
bukanlah sebuah tindakan intelek, namun lebih kepada faktor gengsi.
Penggunaan istilah asing malah akan mengaburkan makna sebenarnya, apalagi Vicky
nampaknya tidak benar-benar memahami makna yang sebenarnya dari
kosakata-kosakata tersebut.
Budayawan Goenawan Mohammad menamai
fenomena gaya
bahasa dan kurang tepat penempatan peristilahan seperti yang dilakukan vicky
prasetyo tersebut sebagai vickiisme. menurut Goenawan, vickiisme adalah gejala
dari tidak bekerjanya daya analitik dalam berbahasa, tetapi lebih dari itu,
juga gejala dari sebuah kecemasan: cemas untuk ketahuan bahwa si penulis atau
si pembicara mirip tong kosong dengan bunyi yang rumit.
Kosakata yang menjadi populer tersebut menunjukkan bahwa semua penyimak media
(masyarakat) sadar bahwasanya bahasa begitu penting. Penggunaan bahasa yang
salah akan menimbulkan kesalahpahaman, ketidaktahuan dan bahkan ‘pelecehan’
dalam hubungannya dengan komunikasi. Karena itu, sudah sepantasnya masyarakat
melihat fenomena bahasa ini dengan gambaran yang lebih besar. Tujuannya tak
lain adalah agar kita semua tak hanya mampu menyerap sepenuhnya setiap kata,
bahasa atau kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh seseorang dalam media,
apalagi jika hal itu disampaikan oleh ‘orang’ dan ‘kondisi’ yang tidak tepat momentnya. Wallahua’lam bishowab
penulis,
kolumnis dan pemerhati masalah sosial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar