Senin, 02 Desember 2013



Popularisasi via Verbalisme
Oleh: Fajjin Amik, S.Pd.,M.Si

Ada hal menarik dari beberapa kejadian unik dan menggelikan akhir-akhir ini di tayangan televisi. Dalam hal ini yaitu penggunaan kalimat dan konsep kata-kata yang digunakan oleh public figur di media. Tulisan ini tak lain adalah berusaha untuk mengantarkan pemahaman masyarakat secara komprehensif tentang etika penyampaian bahasa kepada khalayak umum. Adalah konsep-konsep kata yang diucapkan oleh seorang bernama Vicky prasetyo (saat itu bertunangan dengan artis ‘dangdut’ yang sedang tenar bernama Saskia Gothic). Hal ini menjadi buah bibir yang menuai kontroversial di kalangan masyarakat kita.  Berikut adalah penggalan kalimat tersebut.
 “Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya”. Kemudian kalimat selanjutnya dituturkan: “kita belajar, apa ya, harmonisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikr kita engga boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan”. Kalimat selanjutnya: “dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga”.
Popularisasi diartikan sebagai perihal yang membuat kita menjadi popular (terkenal). Inilah salah satu yang dilakukan pembicara konsep-konsep diatas. Konspirasi kemakmuran, kontroversi hati, statusisasi, merupakan konsep-konsep yang saat ini heboh dan popular di semua kalangan masyarakat.  Betapa tidak kemunculannya dalam waktu sekejap sudah langsung meroket kabarnya dan langsung menjadi fenomena berbahasa yang menuai kontroversi dikalangan masyarakat kita. Dan itupun berdampak pada ketenaran pribadi yang mengemukakannya. Media jejaring sosial, acara televisi, surat kabar, pelawak, artis, akademisi, smuanya baik sadar atau tak sadar telah ikut mempopulerkan deretan konsep-konsep diatas (meski tak semua). Akademisi, yaitu dengan menyelipkan dalam pemaparan dikelas, artis dan pelawak dalam sela-sela lawakannya, media massa (televisi, surat kabar) dalam informasi, berita-berita dan ulasannya, dan mungkin yang tak kalah cepat merebaknya adalah melalui media jejaring social seperti facebook, twitter, dan lainnya.
Konsep-konsep kata seperti merindukan apresiasi, basically, kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisasi, kudeta, statusisasi kemakmuran, labil ekonomi, bukannya tak memiliki arti yang tegas melainkan absurd ketika konsep tersebut disampaikan bukan pada konteks yang tepat. Terlebih lagi jika itu disampaikan didepan khalayak umum atau orang banyak.
Sebenarnya, ini bukanlah merupakan hal baru di Indonesia. Kita tentu masih ingat dengan konsep-konsep seperti secara, cetar membahana, sesuatu banget, dan lainnya pernah membooming dan menjadi ikon bahkan jargon kepopuleran artis tertentu yang kemudian diikuti oleh banyak orang, akan tetapi konteks dan moment penempatannya dari setiap kata-kata tersebut berbeda dengan yang dikemukakan vicky hal itu lebih karena makna kata dari setiap pengucapannya dikemukakan di moment dan ‘tempat’nya. Tak mempengaruhi arti kata itu sendiri dan sebatas varian bahasa semata.

Popularitas dan penyebabnya
Ada beberapa hal yang menyebabkan meroketnya penggunaan konsep kata-kata ‘intelek’ tersebut. Pertama, kalimat tersebut diungkapkan oleh orang yang sedang menjadi fokus media (sedang di sorot oleh media). Sehingga dari peliputan media dapat menyebarkan informasi ke berbagai kalangan masyarakat dan sudah pasti akan diketahui oleh semuanya. Kedua, penggunaan bahasa Vicky tak sesuai dengan ‘momentnya’. Sehingga banyak menuai kontroversi di masyarakat, terlebih lagi jika kaum intelek (terpelajar) yang menilainya. Ketiga, sosok Vicky sedang menjadi sorotan di masyarakat dengan kasus yang sedang menimpanya, dan keempat yaitu ia sedang menjalin hubungan dengan ‘artis’ sehingga menjadi pusat perhatian bagi media dan orang banyak.
Selain itu, jika kita analisa konsep kata tersebut, ada beberapa hal yang menarik diantaranya: Pertama, jika seandainya itu disampaikan memang berdasarkan kemampuan intelektual dari seorang Vicky, maka itu akan menjadi boomerang bagi dirinya karena tidak  pas konteksnya bahkan tak mudah dicerna maksud dan tujuannya. Kedua, jika maksud penyampaian konsep-konsep kontroversial itu ditujukan hanya untuk mendongkrak popularitas, maka masyarakatpun akan menilai  tak baik untuk dirinya meskipun popularitasnya bertambah tetapi dalam arti negatif (hanya artis instant semata). Ketiga, munculnya budaya dan generasi instant, dalam arti pemahaman seseorang yang selalu ingin segala sesuatunya dicapai secara cepat, termasuk untuk mempopularitaskan diri dengan cara etis maupun tak etis (baik atau tak baik). Khusus yang terakhir, model ‘kenekadan’ dalam penyampaian pidato/kalimat Vicky ditengah media ini menjadi tanda bahkan dimulainya cara-cara instant dalam melakukan berbagai hal untuk mencapai tujuan. Dan ini tentu saja yang perlu dihindari oleh kita semua.

Demam Verbalisme
Dalam berbahasa, ada yang disebut verbalisme yaitu memakai suatu atau sejumlah peristilahan namun tidak mengetahui maknanya (yang benar dan tepat)). para mahasiswa baru atau orang baru dalam dunia keilmuan (ilmiah) tidak jarang 'terpaksa' mengalami verbalisme lantaran salah kaprah dan terlalu cepat 'kepincut' menjadi bagian dari kaum intelektual di dunia ilmiah yang ia anggap sama artinya dengan gemar memakai peristilahan asing.
Dalam konteks itu, peristilahan asing bukan lagi dimaksudkan sebagai tanda-tanda pembawa pesan yang sulit ditemukan istilahnya dalam bahasa nasional/lokal kepada audiens sehingga terpaksa digunakan untuk mengomunikasikan pesan kepada audiens. melainkan, tidak jarang segelintir oknum baru dalam blantika 'dunia intelektual' tersebut memaknainya bahwa semakin asing dan sulit dimengerti peristilahan yang ia gunakan maka semakin inteleklah ia alias semakin pinter. padahal, tak seperti itu seharusnya.
Vicky yang memadupadankan peristilahan asing namun terasa kurang tepat dalam tuturannya, sehingga alih-alih terlihat intelek dan cerdas, yang ada malah tampak kurang tepat, istilah sulit dicerna maksudnya, terlalu memaksakan, dan karena itu, terkesan aneh dan lucu serta menggelikan. Gaffar Rushkan (peneliti bahasa) dalam surat kabar Tempo (Selasa, 10 September 2013) yang menyatakan bahwa tindakan Vicky ini bukanlah sebuah tindakan intelek, namun lebih kepada faktor gengsi. Penggunaan istilah asing malah akan mengaburkan makna sebenarnya, apalagi Vicky nampaknya tidak benar-benar memahami makna yang sebenarnya dari kosakata-kosakata tersebut.
Budayawan Goenawan Mohammad menamai fenomena gaya bahasa dan kurang tepat penempatan peristilahan seperti yang dilakukan vicky prasetyo tersebut sebagai vickiisme. menurut Goenawan, vickiisme adalah gejala dari tidak bekerjanya daya analitik dalam berbahasa, tetapi lebih dari itu, juga gejala dari sebuah kecemasan: cemas untuk ketahuan bahwa si penulis atau si pembicara mirip tong kosong dengan bunyi yang rumit.
Kosakata yang menjadi populer tersebut menunjukkan bahwa semua penyimak media (masyarakat) sadar bahwasanya bahasa begitu penting. Penggunaan bahasa yang salah akan menimbulkan kesalahpahaman, ketidaktahuan dan bahkan ‘pelecehan’ dalam hubungannya dengan komunikasi. Karena itu, sudah sepantasnya masyarakat melihat fenomena bahasa ini dengan gambaran yang lebih besar. Tujuannya tak lain adalah agar kita semua tak hanya mampu menyerap sepenuhnya setiap kata, bahasa atau kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh seseorang dalam media, apalagi jika hal itu disampaikan oleh orang dan kondisi yang tidak tepat momentnya. Wallahua’lam bishowab

penulis, kolumnis dan pemerhati masalah sosial