“PANGGUNG ABRAKADABRA”
Ini kisah di
negri entah di mana. Konon katanya, dahulu kala negri ini punya raja yang aneh.
Rakyatnya aneh, dan semuanya aneh. Nah..bingung kan? Memang aneh. Siang itu,
angin bertiup sepoi-sepoi. Terlihat para pengawal sedang berjaga-jaga di depan
gerbang istana. Kalau dilihat dengan
teliti, mata para pengawal itu terpejam loh, alias tidur. Tapi sayang, tidak
ada yang meneliti. Walaupun tidur, mereka masih mau mengemban tugas, yaitu
menjaga keamanan para penguasa yang sedang rapat di dalam.
Tiba-tiba,
mereka dikejutkan dengan suara berisik yang sangat mengganggu. Mata mereka Mereka langsung terbelalak matanya. Wah, banyak orang! Jangan-jangan mereka lagi
demo! Kan sekarang demo itu lagi ”in”. Semakin dekat...semakin dekat, waw..,mereka
bawa palu. Pegawal saling berpandangan. Mereka membentuk barisan,
nama kerennya pagar bambu...eh...pagar betis! Wajah mereka menjadi garang. Suasana
ngatuk berganti menjadi suasana yang menegangkan.
” Jangan ambil
lahan kami! Turunkan harga pajak!” kata-kata itu terus diulang.
Ketika sampai di depan pintu gerbang istana, salah seorang dari pendemo itu
maju. ” Hai,pengawal! Kami mau
bertemu dengan Raja!”Katanya lantang.
” Kalian mau apa? Para penguasa
sedang rapat. Jadi tidak bisa diganggu!” kata pengawal.
” Kami harus bertemu! Kami mau
bicara!” katanya lagi.
” Tidak bisa! Lebih baik kalian
pulang! Kalau tidak....” pengawal itu tidak melanjutkan.
”Kalau tidak, kenapa? Apa yang
mau kalian lakukan pada kami?”
”Kalau tidak.., kami akan berbuat
kasar pada kalian!” katanya melanjutkan lagi.
”Silahkan! Kami tidak takut! Kami
hanya ingin bertemu para penguasa! Kami tidak mau mereka menindas kami seenaknya!”
” Tidak bisa! Kalian harus pulang! Mereka sedang rapat!”
Karena mereka saling mempertahankan
keinginan, maka terjadilah perkelahian. Wah,pokoknya seru deh! Sayang tidak
bisa dilihat. Jadi bayangkan saja!Karena
serunya perkelahian itu dan berisiknyasuara mereka, maka muncullah seorang
laki-laki dari dalam istana.Ia bertubuh gemuk, tinggi, rambut lurus sedikit
beruban. Dia mengenakan pakaian kerajaan. Ternyata dia adalah Raja Tak Eling. Diatidak
sendiri. Di belakangnya ada mentri-mentrinya yang juga ingin melihat serunya
perkelahian itu. Melihat kedatangan raja, mereka menghentikan perkelahian
itu. Mereka diam. Suasana menjadi hening. Eee, melihat suasana demikian, raja
malah bingung. Beliau celingak-celinguk.
” Ini...ada apa sih? Kok ribuuut
buanget. Mbo’ ya ngomong. Ndak usah ribut!” kata raja.
” Maaf, Yang Mulia. Ini
semua mereka yang mulai. Kami sudah suruh mereka pulang dan kami sudah kasih
tahu, kalau baginda raja sedang rapat. Tapi mereka ndak ngerti!”
” Bohong,Yang Mulya! Kami sudah
bilang kalau kami mau ketemu sama yang Mulya. Kami mau ngomong secara
baik-baik. Tapi mereka menghalangi!” Kata pendemo.
” Bohong,Yang Mulya! Mereka yang
berteriak-teriak!” kata pengawal.
” Bohong, Yang Mulya!” Kata
pendemo. Akhirnya mereka saling menuding. Dan hampir terjadi perkelahian lagi.
Untung saja raja membentak mereka.
” SUDAH!!!! Tidak ada lagi yang
ngomong! Kamu! Ikut ke dalam!” kata raja menunjuk seorang pendemo
untuk ikut ke dalam istana.” Yang lain, tunggu di sini! Tidak ada lagi
perkelahian!Pusiiiiing!” kata raja. Lalu raja, perdana mentri, dan
seorang pendemo itu masuk ke dalam istana. Dan yang lain
menunggu di luar. Di dalam
istana, raja menyuruh pendemo itu duduk. Dan semua perdana mentri juga
duduk. Raja berdiri dengan wajah yang sedikit terlihat tegang. ” Memangnya...,
apa yang mau kalian kemukakan? Tanya raja pada pendemo. ’Begini yang Mulya,
kami hanya ingin lahan kami tidak diambil,dan pajak jangan mahal! Kami tidak
punya apa-apa lagi dong,Yang Mulya. Tolonglah kami!” kata pendemo itu.
”Loh...siapa yang mau ambil lahan kalian? Dan siapa yang menaikan harga pajak?
Saya belum memetuskan itu kok. Lah wong sekarang saja baru rapat...kok kalian
sudah tahu? Opo iki? Aneh.!.padahal saya tidak mau itu terjadi. Mmmmm, ada apa
ini?” kata raja sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat
para perdana mentri berbisik-bisik. Lalu wajah mereka terlihat tegang. Mereka
menundukan wajah. Melihat itu, raja mengerutkan keningnya. Tiba-tiba,
mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang sedang berteriak-teriak
sambil berlari-lari karena dikejar oleh pengawal”Ada apa lagi ini? Siapa kamu?
Pengawal, ada apa ini?” tanya raja ” Maaf, Yang Mulya. Perempuan ini
menerobos masuk, jadi saya kejar! ” Yang Mulya, saya juga mau ketemu
sama Yang Mulya dan mau mengungkapkan pendapat. Boleh kan?”
”Ya,boleh...boleh...tapi, yang ini
saja belum selesai...kamu malah bikin masalah! ” Tapi ini juga penting. Ini soal pendidikan, Yang
Mulya. Begini Yang Mulya, saya ini guru, saya sangat prihatin dengan nasib
pendidkan di negri ini. Saya melihat gedung-gedung sekolah banyak yang tidak
layak pakai. Banyak yang hamper roboh. Buku-bukunya juga masih sangat terbatas.
Apalagi guru-gurunya…” “Kenapa guru-gurunya?” tanya Raja ” Guru-gurunya... guru-gurunya, ndak punya buku..yach..ndak punya buku!”” Katanya mau ngomong sama saya,
tapi kok ndak jujur, asal saya senang,yah?
” Mmmm, ndak,
bukan...yah...guru-gurunya,ndak punya fasilitas.”
” Sudah,nanti akan saya pikirkan.
Saya tampung dulu, lalu saya pelajari, baru saya akan kasih keputusan. Sekarang
kalian pulang. Kami akan melanjutkan rapat. Biar yang
kalian inginkan tercapai. Silahkan kalian pulang!” Kata Raja.
Mereka pulang. Dan raja serta
perdana mentri kembali rapat. Tapi ngomong-ngomong...mereka lagi rapat apa sih? Apa
betul mereka rapat masalah tadi?Satu bulan sudah berlalu, Para pendemo itu
berkumpul lagi. Mereka sedang rapat.”Kok, inspirasi kita belum ada jawaban yah?
Waktu itu betul ga sih mereka rapatin masalah kita? Jangan-jangan
mereka rapat masalah lain.Wah...ini tidak boleh didiamkan!” kata pendemo itu. Mereka
merencanakan untuk datang lagi ke istana. Mereka
bermaksud untuk demo lagi. Demo itu jadi hobby loh! Ketika mereka
akan demo, tiba-tiba datang segerombolan pengawal. Mereka mau membacakan
keputusan raja. ”Pengumuman!
Raja memutuskan: lahan kalian tidak akan diambil dengan paksa, tapi akan
mendapat ganti rugi yang menurut raja pantas.Lalu masalah pajak tidak akan
dinaikan tetapi kalian harus membayar sumbangan sebesar 2%.Masalah
pendidikan...no commen! Sekian dan terimakasih.” Setelah mendengar itu, para
pendemo jadi pusiiing.Lalu mereka duduk lemas. Mereka akan merencanakan demo
yang lebih besar.danmereka yakin...keputusan tidak dipihak mereka. Dan...demo
lagi, demo lagi, dan lagi. Yah...namanya juga panggung abrakadabra. Kalau
disulap ada ya pasti ada, kalau hilang, ya...hilang.Simsalabim! Ada cerita
panggung abrakadabra, Ini dia..!
(continue ???)....


