Minggu, 23 Februari 2014

Panggung Negeri Antahberantah,,,

“PANGGUNG  ABRAKADABRA”


Ini kisah di negri entah di mana. Konon katanya, dahulu kala negri ini punya raja yang aneh. Rakyatnya aneh, dan semuanya aneh. Nah..bingung kan? Memang aneh. Siang itu, angin bertiup sepoi-sepoi. Terlihat para pengawal sedang berjaga-jaga di depan gerbang istana.  Kalau dilihat dengan teliti, mata para pengawal itu terpejam loh, alias tidur. Tapi sayang, tidak ada yang meneliti. Walaupun tidur, mereka masih mau mengemban tugas, yaitu menjaga keamanan para penguasa yang sedang rapat di dalam. 
Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan suara berisik yang sangat mengganggu. Mata mereka Mereka langsung terbelalak matanya. Wah, banyak orang! Jangan-jangan mereka lagi demo! Kan sekarang demo itu lagi ”in”. Semakin dekat...semakin dekat, waw..,mereka bawa palu. Pegawal saling berpandangan. Mereka membentuk barisan, nama kerennya pagar bambu...eh...pagar betis! Wajah mereka menjadi garang. Suasana ngatuk berganti menjadi suasana yang menegangkan. 
” Jangan ambil lahan kami! Turunkan harga pajak!” kata-kata itu terus diulang. Ketika sampai di depan pintu gerbang istana, salah seorang dari pendemo itu maju. ” Hai,pengawal! Kami mau bertemu dengan Raja!”Katanya lantang.  
” Kalian mau apa? Para penguasa sedang rapat. Jadi tidak bisa diganggu!” kata pengawal.
” Kami harus bertemu! Kami mau bicara!” katanya lagi.

” Tidak bisa! Lebih baik kalian pulang! Kalau tidak....” pengawal itu tidak melanjutkan.

”Kalau tidak, kenapa? Apa yang mau kalian lakukan pada kami?”

”Kalau tidak.., kami akan berbuat kasar pada kalian!” katanya melanjutkan lagi.

”Silahkan! Kami tidak takut! Kami hanya ingin bertemu para penguasa! Kami tidak mau mereka menindas kami seenaknya!”

Tidak bisa! Kalian harus pulang! Mereka sedang rapat!”

Karena mereka saling mempertahankan keinginan, maka terjadilah perkelahian. Wah,pokoknya seru deh! Sayang tidak bisa  dilihat. Jadi bayangkan saja!Karena serunya perkelahian itu dan berisiknyasuara mereka, maka muncullah seorang laki-laki dari dalam istana.Ia bertubuh gemuk, tinggi, rambut lurus sedikit beruban. Dia mengenakan pakaian kerajaan. Ternyata dia adalah Raja Tak Eling. Diatidak sendiri. Di belakangnya ada mentri-mentrinya yang juga ingin melihat serunya perkelahian itu. Melihat kedatangan raja, mereka menghentikan perkelahian itu. Mereka diam. Suasana menjadi hening. Eee, melihat suasana demikian, raja malah bingung. Beliau celingak-celinguk.

” Ini...ada apa sih? Kok ribuuut buanget. Mbo’ ya ngomong. Ndak usah ribut!” kata raja.

” Maaf, Yang Mulia. Ini semua mereka yang mulai. Kami sudah suruh mereka pulang dan kami sudah kasih tahu, kalau baginda raja sedang rapat. Tapi mereka ndak ngerti!”

” Bohong,Yang Mulya! Kami sudah bilang kalau kami mau ketemu sama yang Mulya. Kami mau ngomong secara baik-baik. Tapi mereka menghalangi!” Kata pendemo.

” Bohong,Yang Mulya! Mereka yang berteriak-teriak!”  kata pengawal.

” Bohong, Yang Mulya!” Kata pendemo. Akhirnya mereka saling menuding. Dan hampir terjadi perkelahian lagi. Untung saja raja membentak mereka.

” SUDAH!!!! Tidak ada lagi yang ngomong! Kamu! Ikut ke dalam!” kata raja menunjuk seorang pendemo untuk ikut ke dalam istana.” Yang lain, tunggu di sini! Tidak ada lagi perkelahian!Pusiiiiing!” kata raja. Lalu raja, perdana mentri, dan seorang pendemo itu masuk ke dalam istana. Dan yang lain menunggu di luar. Di dalam istana, raja menyuruh pendemo itu duduk. Dan semua perdana mentri juga duduk. Raja berdiri dengan wajah yang sedikit terlihat tegang. ” Memangnya..., apa yang mau kalian kemukakan? Tanya raja pada pendemo. ’Begini yang Mulya, kami hanya ingin lahan kami tidak diambil,dan pajak jangan mahal! Kami tidak punya apa-apa lagi dong,Yang Mulya. Tolonglah kami!” kata pendemo itu. ”Loh...siapa yang mau ambil lahan kalian? Dan siapa yang menaikan harga pajak? Saya belum memetuskan itu kok. Lah wong sekarang saja baru rapat...kok kalian sudah tahu? Opo iki? Aneh.!.padahal saya tidak mau itu terjadi. Mmmmm, ada apa ini?” kata raja sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat para perdana mentri berbisik-bisik. Lalu wajah mereka terlihat tegang. Mereka menundukan wajah. Melihat itu, raja mengerutkan keningnya. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang sedang berteriak-teriak sambil berlari-lari karena dikejar oleh pengawal”Ada apa lagi ini? Siapa kamu? Pengawal, ada apa ini?” tanya raja ” Maaf, Yang Mulya. Perempuan ini menerobos masuk, jadi saya kejar! ” Yang Mulya, saya juga mau ketemu sama Yang Mulya dan mau mengungkapkan pendapat. Boleh kan?”

”Ya,boleh...boleh...tapi, yang ini saja belum selesai...kamu malah bikin masalah! ” Tapi ini juga penting. Ini soal pendidikan, Yang Mulya. Begini Yang Mulya, saya ini guru, saya sangat prihatin dengan nasib pendidkan di negri ini. Saya melihat gedung-gedung sekolah banyak yang tidak layak pakai. Banyak yang hamper roboh. Buku-bukunya juga masih sangat terbatas. Apalagi guru-gurunya…” “Kenapa guru-gurunya?” tanya Raja ” Guru-gurunya... guru-gurunya, ndak punya buku..yach..ndak punya buku!”” Katanya mau ngomong sama saya, tapi kok ndak jujur, asal saya senang,yah?

” Mmmm, ndak, bukan...yah...guru-gurunya,ndak punya fasilitas.”

” Sudah,nanti akan saya pikirkan. Saya tampung dulu, lalu saya pelajari, baru saya akan kasih keputusan. Sekarang kalian pulang. Kami akan melanjutkan rapat. Biar yang kalian inginkan tercapai. Silahkan kalian pulang!” Kata Raja.

Mereka pulang. Dan raja serta perdana mentri kembali rapat. Tapi ngomong-ngomong...mereka lagi rapat apa sih? Apa betul mereka rapat masalah tadi?Satu bulan sudah berlalu, Para pendemo itu berkumpul lagi. Mereka sedang rapat.”Kok, inspirasi kita belum ada jawaban yah? Waktu itu betul ga sih mereka rapatin masalah kita? Jangan-jangan mereka rapat masalah lain.Wah...ini tidak boleh didiamkan!” kata  pendemo itu. Mereka merencanakan untuk datang lagi ke istana. Mereka bermaksud untuk demo lagi. Demo itu jadi hobby loh! Ketika mereka akan demo, tiba-tiba datang segerombolan pengawal. Mereka mau membacakan keputusan raja. ”Pengumuman! Raja memutuskan: lahan kalian tidak akan diambil dengan paksa, tapi akan mendapat ganti rugi yang menurut raja pantas.Lalu masalah pajak tidak akan dinaikan tetapi kalian harus membayar sumbangan sebesar 2%.Masalah pendidikan...no commen! Sekian dan terimakasih.” Setelah mendengar itu, para pendemo jadi pusiiing.Lalu mereka duduk lemas. Mereka akan merencanakan demo yang lebih besar.danmereka yakin...keputusan tidak dipihak mereka. Dan...demo lagi, demo lagi, dan lagi. Yah...namanya juga panggung abrakadabra. Kalau disulap ada ya pasti ada, kalau hilang, ya...hilang.Simsalabim! Ada cerita panggung abrakadabra, Ini dia..!  
(continue ???)....

 



Senin, 17 Februari 2014

@Mari Menulis ..... ( Edisi 1 )

@Mari Menulis .....(edisi 1)
  
oleh: Fajjin Amik, S.Pd.,M.Si 
 



Manusia diberikan kemampuan dalam berbagai hal dari yang kuasa. Tujuannya tak lain adalah supaya manusia mampu melakukan berbagai hal dan bisa memenuhi kebutuhannya baik untuk pribadinya maupun orang lain.
(Beberapa Buku Karya penulis, tercantum dalam Permendiknas No.22/2007, No. 32/2010 dan  No.5/2011
Kadang untuk bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginannya, manusia perlu menggali apa yang secara disadari atau tak disadarinya bisa menjadi potensi dan skill yang dimilikinya. Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh semua manusia adalah menulis. Menulis baik dalam arti menyuguhkan kemampuan, ilmu dan pengetahuan untuk dirinya sendiri maupun untuk khalayak umum. 
 Menjadi penulis handal tak bisa lahir dengan sendirinya. Untuk bisa jadi kategori handal, ia membutuhkan proses. Proses guna menuju kearah kehandalan itu sendiri.
Kadang seseorang mahir dalam bicara,berpendapat dan menyampaikan ide dan gagasan yg dimilikinya terhadap orang lain. Tetapi apakah tipe seperti ini sudah pasti mahir dalam menulis? Jawabnya belum tentu atau bahkan tidak. 
(contoh jenis tulisan yang sudah terbit di Kolom Opini Surat Kabar/Koran)
Kenapa? Karena menulis tak hanya membutuhkan sebatas ide, pengetahuan dan wawasan saja. Menulis membutuhkan kemauan dan kemampuan dalam menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.
Untuk bisa menuangkanya dalam tulisan seseorang harus membiasakan dan melatihnya secara terus menerus. Tanpa bermaksud untuk
mengajarkan aspek benar salah dlm teknik penulisan, sebaiknya menulis dimulai dgn menuangkan hal apapun yg bersumber dr hati,pikiran dan sikon di sekitar. Setelah kita mampu mewujudkanya, lalu biasakanlah (dilakukan berulang-ulang disetiap waktu tertentu).

Selamat menulis.....! Kita Pasti Bisa......!!!

Senin, 02 Desember 2013



Popularisasi via Verbalisme
Oleh: Fajjin Amik, S.Pd.,M.Si

Ada hal menarik dari beberapa kejadian unik dan menggelikan akhir-akhir ini di tayangan televisi. Dalam hal ini yaitu penggunaan kalimat dan konsep kata-kata yang digunakan oleh public figur di media. Tulisan ini tak lain adalah berusaha untuk mengantarkan pemahaman masyarakat secara komprehensif tentang etika penyampaian bahasa kepada khalayak umum. Adalah konsep-konsep kata yang diucapkan oleh seorang bernama Vicky prasetyo (saat itu bertunangan dengan artis ‘dangdut’ yang sedang tenar bernama Saskia Gothic). Hal ini menjadi buah bibir yang menuai kontroversial di kalangan masyarakat kita.  Berikut adalah penggalan kalimat tersebut.
 “Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya”. Kemudian kalimat selanjutnya dituturkan: “kita belajar, apa ya, harmonisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikr kita engga boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan”. Kalimat selanjutnya: “dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga”.
Popularisasi diartikan sebagai perihal yang membuat kita menjadi popular (terkenal). Inilah salah satu yang dilakukan pembicara konsep-konsep diatas. Konspirasi kemakmuran, kontroversi hati, statusisasi, merupakan konsep-konsep yang saat ini heboh dan popular di semua kalangan masyarakat.  Betapa tidak kemunculannya dalam waktu sekejap sudah langsung meroket kabarnya dan langsung menjadi fenomena berbahasa yang menuai kontroversi dikalangan masyarakat kita. Dan itupun berdampak pada ketenaran pribadi yang mengemukakannya. Media jejaring sosial, acara televisi, surat kabar, pelawak, artis, akademisi, smuanya baik sadar atau tak sadar telah ikut mempopulerkan deretan konsep-konsep diatas (meski tak semua). Akademisi, yaitu dengan menyelipkan dalam pemaparan dikelas, artis dan pelawak dalam sela-sela lawakannya, media massa (televisi, surat kabar) dalam informasi, berita-berita dan ulasannya, dan mungkin yang tak kalah cepat merebaknya adalah melalui media jejaring social seperti facebook, twitter, dan lainnya.
Konsep-konsep kata seperti merindukan apresiasi, basically, kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisasi, kudeta, statusisasi kemakmuran, labil ekonomi, bukannya tak memiliki arti yang tegas melainkan absurd ketika konsep tersebut disampaikan bukan pada konteks yang tepat. Terlebih lagi jika itu disampaikan didepan khalayak umum atau orang banyak.
Sebenarnya, ini bukanlah merupakan hal baru di Indonesia. Kita tentu masih ingat dengan konsep-konsep seperti secara, cetar membahana, sesuatu banget, dan lainnya pernah membooming dan menjadi ikon bahkan jargon kepopuleran artis tertentu yang kemudian diikuti oleh banyak orang, akan tetapi konteks dan moment penempatannya dari setiap kata-kata tersebut berbeda dengan yang dikemukakan vicky hal itu lebih karena makna kata dari setiap pengucapannya dikemukakan di moment dan ‘tempat’nya. Tak mempengaruhi arti kata itu sendiri dan sebatas varian bahasa semata.

Popularitas dan penyebabnya
Ada beberapa hal yang menyebabkan meroketnya penggunaan konsep kata-kata ‘intelek’ tersebut. Pertama, kalimat tersebut diungkapkan oleh orang yang sedang menjadi fokus media (sedang di sorot oleh media). Sehingga dari peliputan media dapat menyebarkan informasi ke berbagai kalangan masyarakat dan sudah pasti akan diketahui oleh semuanya. Kedua, penggunaan bahasa Vicky tak sesuai dengan ‘momentnya’. Sehingga banyak menuai kontroversi di masyarakat, terlebih lagi jika kaum intelek (terpelajar) yang menilainya. Ketiga, sosok Vicky sedang menjadi sorotan di masyarakat dengan kasus yang sedang menimpanya, dan keempat yaitu ia sedang menjalin hubungan dengan ‘artis’ sehingga menjadi pusat perhatian bagi media dan orang banyak.
Selain itu, jika kita analisa konsep kata tersebut, ada beberapa hal yang menarik diantaranya: Pertama, jika seandainya itu disampaikan memang berdasarkan kemampuan intelektual dari seorang Vicky, maka itu akan menjadi boomerang bagi dirinya karena tidak  pas konteksnya bahkan tak mudah dicerna maksud dan tujuannya. Kedua, jika maksud penyampaian konsep-konsep kontroversial itu ditujukan hanya untuk mendongkrak popularitas, maka masyarakatpun akan menilai  tak baik untuk dirinya meskipun popularitasnya bertambah tetapi dalam arti negatif (hanya artis instant semata). Ketiga, munculnya budaya dan generasi instant, dalam arti pemahaman seseorang yang selalu ingin segala sesuatunya dicapai secara cepat, termasuk untuk mempopularitaskan diri dengan cara etis maupun tak etis (baik atau tak baik). Khusus yang terakhir, model ‘kenekadan’ dalam penyampaian pidato/kalimat Vicky ditengah media ini menjadi tanda bahkan dimulainya cara-cara instant dalam melakukan berbagai hal untuk mencapai tujuan. Dan ini tentu saja yang perlu dihindari oleh kita semua.

Demam Verbalisme
Dalam berbahasa, ada yang disebut verbalisme yaitu memakai suatu atau sejumlah peristilahan namun tidak mengetahui maknanya (yang benar dan tepat)). para mahasiswa baru atau orang baru dalam dunia keilmuan (ilmiah) tidak jarang 'terpaksa' mengalami verbalisme lantaran salah kaprah dan terlalu cepat 'kepincut' menjadi bagian dari kaum intelektual di dunia ilmiah yang ia anggap sama artinya dengan gemar memakai peristilahan asing.
Dalam konteks itu, peristilahan asing bukan lagi dimaksudkan sebagai tanda-tanda pembawa pesan yang sulit ditemukan istilahnya dalam bahasa nasional/lokal kepada audiens sehingga terpaksa digunakan untuk mengomunikasikan pesan kepada audiens. melainkan, tidak jarang segelintir oknum baru dalam blantika 'dunia intelektual' tersebut memaknainya bahwa semakin asing dan sulit dimengerti peristilahan yang ia gunakan maka semakin inteleklah ia alias semakin pinter. padahal, tak seperti itu seharusnya.
Vicky yang memadupadankan peristilahan asing namun terasa kurang tepat dalam tuturannya, sehingga alih-alih terlihat intelek dan cerdas, yang ada malah tampak kurang tepat, istilah sulit dicerna maksudnya, terlalu memaksakan, dan karena itu, terkesan aneh dan lucu serta menggelikan. Gaffar Rushkan (peneliti bahasa) dalam surat kabar Tempo (Selasa, 10 September 2013) yang menyatakan bahwa tindakan Vicky ini bukanlah sebuah tindakan intelek, namun lebih kepada faktor gengsi. Penggunaan istilah asing malah akan mengaburkan makna sebenarnya, apalagi Vicky nampaknya tidak benar-benar memahami makna yang sebenarnya dari kosakata-kosakata tersebut.
Budayawan Goenawan Mohammad menamai fenomena gaya bahasa dan kurang tepat penempatan peristilahan seperti yang dilakukan vicky prasetyo tersebut sebagai vickiisme. menurut Goenawan, vickiisme adalah gejala dari tidak bekerjanya daya analitik dalam berbahasa, tetapi lebih dari itu, juga gejala dari sebuah kecemasan: cemas untuk ketahuan bahwa si penulis atau si pembicara mirip tong kosong dengan bunyi yang rumit.
Kosakata yang menjadi populer tersebut menunjukkan bahwa semua penyimak media (masyarakat) sadar bahwasanya bahasa begitu penting. Penggunaan bahasa yang salah akan menimbulkan kesalahpahaman, ketidaktahuan dan bahkan ‘pelecehan’ dalam hubungannya dengan komunikasi. Karena itu, sudah sepantasnya masyarakat melihat fenomena bahasa ini dengan gambaran yang lebih besar. Tujuannya tak lain adalah agar kita semua tak hanya mampu menyerap sepenuhnya setiap kata, bahasa atau kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh seseorang dalam media, apalagi jika hal itu disampaikan oleh orang dan kondisi yang tidak tepat momentnya. Wallahua’lam bishowab

penulis, kolumnis dan pemerhati masalah sosial

Rabu, 03 Oktober 2012

ALASAN WANITA pamer foto 'seksi' di FB ???
INILAH.COM, Jakarta- Dibandingkan pria, perempuan memiliki lebih banyak foto dengan beragam pose di Facebook. Studi terbaru menunjukkan foto sensual menjadi cara perempuan merasa lebih baik. Seperti apa?
Studi terbaru ilmuwan University of Buffalo, Amerika Serikat, Michael A. Stefanone menemukan bahwa perempuan tidak hanya bahagia saat memamerkan foto di Facebook tetapi juga pada dasarnya, mereka meningkatkan kepercayaan diri atas penampilan mereka. Stefanone percaya pertukaran foto di Facebook adalah cara bagi kaum hawa untuk meningkatkan pencitraan diri mereka.
“Kesimpulan penelitian atas perilaku pria dan wanita berasal dari fokus budaya akan pencitraan dan penampilan perempuan,” ujar Stefanone seperti dikutip dari Huffington Post.
Mewawancarai setidaknya 311 partisipan, studi itu mengukur bagaimana mereka memanfaatkan Facebook sekaligus mengukur tingkat kepercayaan diri. Ini terlihat dari pandangan koresponden atas penerimaan lingkungan terhadap mereka, hubungan dengan keluarga dan keintiman hubungan pribadi.
Wanita berusia muda cenderung menyukai perasaan saat menjadi pusat perhatian publik. Karenanya, mereka cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di Facebook dan berbagi foto, termasuk foto yang cenderung sensual. Di sisi lain, perempuan yang merasa tidak butuh pencitraan akan menghabiskan sedikit waktu di media online, Stefanone menganggap ini sebagai budaya selebriti.

Rabu, 02 Mei 2012

NEGARA ZIONIS, pasti Tamunya juga etnis Zionis.

Tokoh yang Hadiri HUT Kemerdekaan ISRAEL Kerdil

Konten Terkait Lihat Foto
Israel
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -

           Predikat negatif langsung melekat pada beberapa tokoh yang kedapatan menghadiri peringatan kemerdekaan Israel di Singapura beberapa waktu lalu. Bagi, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bachtiar Nasir kehadiran beberapa tokoh tersebut menunjukkan kekerdilannya di hadapan seluruh bangsa Indonesia.
          Hal itu dikarenakan Indonesia sebagai negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara penjajah tersebut. Sehingga tentu ada alasan politis yang sangat mendasar. "Hanya politisi yang tidak memiliki sensitifitas dan menunjukkan kekerdilannya saja yang bersedia apalagi bangga menghadiri perayaan kemerdekaan negeri penjajah, sungguh kerdil dan tak punya sensitifitas alias bebal," cecar Bachtiar, di Jakarta, Kamis (3/5).
           Pendiri Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) ini mengulik kisah, jika bukan hanya umat Islam dunia yang marah dengan kekejaman yang dilakukan agresor Israel, tapi juga semua agama marah dengan kejahatan kemanusiaan yang negara Yahudi itu lakukan. Sehingga dia, menurut dia, bagaimana mungkin tokoh nasional Indonesia berdalih hanya dengan memenuhi undangan pribadi bersedia menghadiri perayaan negara yang dikecam melakukan kejahatan HAM.
            "Jika dia seorang Muslim, saya yakin tokoh itu adalah orang yang tidak punya keberpihakan pada agamanya. Jika dia seorang tokoh nasionalis maka dia tidak memiliki nasionalisme sejati," terang Bachtiar. Indah Wulandari Sebelumnya, Wajah Ferry Mursyidan Baldan tampak tertangkap kamera saat menghadiri Peringatan Hari Kemerdekaan Israel di gedung School of the Arts, Singapura, Kamis (26/4) lalu.
             Dalam foto yang dimuat laman Merdeka.com, mantan ketua umum PB HMI periode 1990-1992 itu menghadiri acara tersebut didampingi sang istri. Kepada Republika Online (ROL), Ferry mengakui bahwa dirinya bersama istri memang menghadiri acara Peringatan Hari Kemerdekaan Israel.
             Menurut dia, ia hanya sebatas memenuhi undangan. Mantan anggota DPR RI itu menyatakan dirinya terbiasa membuka hubungan komunikasi dengan siapa pun termasuk dengan Israel. Menurut Ferry, menghadiri undangan peringatan Hari Kemerdekaan Israel oleh Kedutaan Besar Israel di Singapura merupakan hal yang lumrah dan tanpa maksud apa pun. ''Itu undangan pribadi yang dikirim resmi oleh dubes Israel. Buat saya lumrah ya, saya biasa membina komunikasi dengan siapa saja," ujarnya saat dihubungi ROL Senin (30/4).

Jumat, 03 Februari 2012




Sebuah Pena

Bunda kau kutip kisah unik untukku

Saat menjelang tidur tempo dulu
Dunia itu pena bertinta emas berkilap
Lalu tinta itu melelehkan kilauannya tiap kau menyebutnya tinta berkilau
Tak kan pernah menjadi tinta hitam
Tapi....
Kisah dunia pena berubah, ketika kau menyebut dia tinta hitam
Kau kan terkena lelehan hitamnya
Hingga jari jemarimu tak bisa memengang pena
Yaa..sinar pena kilauan tertutup lelehan tinta hitam
Andai setiap saat kau inginkan
Dalam buah pena-pena harapan


"sahabat cerdas ala einstein"
1-1-12

Senin, 31 Oktober 2011


Sejarah internet

Internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).
Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.
Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu di tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya.
Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu "MILNET" untuk keperluan militer dan "ARPANET" baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.