
Banten & Pemberdayaan Masyarakat
Oleh: Fajjin Amik, S.Pd., M.Si
Pembangunan bukan hanya merupakan program kegiatan nasional melainkan suatu keharusan manajerial guna mencapai tujuan nasional. Umumnya negara-negara yang sedang berkembang memiliki permasalahan dengan kualitas Sumber Daya Manusia yang diperburuk dengan kualitas mental pembangunan yang rendah dan sistem ekonomi yang belum begitu kuat. Hal ini menyebabkan pertumbuhan suatu negara menjadi sangat lamban, dengan demikian diperlukan adanya suatu strategi dalam bidang efisiensi ekonomi dan epektifitas sumber daya manusia serta sumber daya alam
Begitu juga di daerah, keberhasilan pelaksanaan program pembangunan di Banten yang bertumpu pada pemberdayaan potensi masyarakat merupakan hal penting untuk diwujudkan. Bahkan beberapa program yang secara embrional lahir di Banten layak menjadi program nasional hal ini hanya dimungkinkan karena kadar kemanfaatannya yang bisa dirasakan oleh masyarakat dari berbagai lapisan. Namun di sisi lain, keberhasilan pembangunan di Banten diikuti pula oleh dampak yang menuntut perhatian banyak pihak. Dalam banyak hal, dampak terhadap aspek kependudukan sangat menuntut perhatian banyak pihak, seperti penyediaan kebutuhan pokok, penyediaan lapangan kerja, keterbatasan sumber daya alam yang diperkirakan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan ekonomi, politik dan sosial.
Keadaan di atas diperburuk oleh beberapa kecenderungan berikut : Pertama, kecenderungan pergeseran struktur masyarakat Banten dari agraris ke industri. Pergeseran ini bukan saja telah menimbulkan struktur ketenagakerjaan di Banten tetapi juga berdampak pada perubahan tata nilai, gaya hidup, pola konsumsi dan pola pikir masyarakatnya.
Kedua, pertumbuhan sektor industri yang membuka peluang kerja dan berkembangnya kesempatan kerja di sektor in formal telah menjadi daya tarik bagi para pencari kerja dari luar Banten. Ini bisa dilihat salah satunya dari perekrutan CPNS 2010 kemarin. Bagaimana wilayah Tangsel, Serang, cilegon dan daerah laiinya kebanjiran peserta dari luar Banten. Sebagai akibatnya angka migrasi datang tetap tinggi, lebih tinggi dibanding ke luar Banten. Keadaan ini memacu persaingan di masyarakat, terutama dalam merebut peluang kerja yang dinilai lebih menjanjikan.
Ketiga, meningkatnya kualitas rata-rata tingkat pendidikan penduduk diikuti oleh meningkatnya kritisisime dalam menilai pelaksanaan pembangunan dan peningkatan harapan hidup sebagian besar anggota masyarakat. Keadaan ini bukan saja menuntut peningkatan standar mutu hidup tetapi juga menuntut kelengkapan fasilitas dan kesempurnaan pelayanan publik.
Ketiga masalah di atas dinilai penting untuk segera ditanggulangi karena dalam perkembangannya telah menimbulkan berbagai kecenderungan yang mencemaskan masyarakat Banten secara keseluruhan. Semakin mudah ditemukannya unjuk rasa pemogokan, pelecehan, bahkan penganiyaan dinilai sebagai akibat yang sebab-sebabnya berakar pada ketiga masalah tadi.
Secara logika, hubungan antara PDRB/kapita dengan penduduk miskin suatu daerah korelasi berbanding terbalik. Artinya, makin tinggi PDRB/kapita suatu daerah, makin sedikit penduduknya yang miskin karena indikator PDRB/kapita digunakan sebagai indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk. Sedangkan banyaknya penduduk miskin merupakan indikator kebalikan PDRB/kapita yang mencerminkan keterbelakangan pembangunan suatu daerah.
Berkaca dari beberapa puluhtahun ke belakang, hasil penelitian Kantor Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun 1982 (masih jawa Barat), diketahui terdapat inskonsistensi antara pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dengan persentase penduduk miskin dan persentase desa tertinggal. Kabupaten Serang (Banten) yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi 12,55 persen misalnya, ternyata memiliki 16,73 persen desa tertinggal. Sebaliknya Kabupaten Ciamis (Jawa Barat) yang laju pertumbuhan ekonominya hanya 1,02 persen, jumlah penduduk miskin hanya 13 persen dari jumlah desa tertinggal 10,34 persen. Ini menunjukkan kemiskinan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: kualitas sumber daya manusia, kesempatan kerja, dan infrastruktur yang mendukung kelangsungan hidup manusia.
Dalam berbagai hal, Banten dinilai memiliki kapabilitas untuk memajukan daerahnya sendiri, tentunya dengan memberdayakan seluruh aspek SDA dan SDM didalamnya. Saat ini Banten Selatan dan Banten Utara jelas memiliki tingkat kemampuan dan kemajuan yang berbeda. Nampak bahwa pembangunan di kedua daerah ini tidaklah sama baik dari sisi supply dan demand nya. Ini tentunya membutuhkan formula yang jitu untuk memunculkan keseimbangan pembangunan yang merata.
Upaya pemberdayaan
Upaya memberdayakan masyarakat dapat dilakukan melalui tiga jalur, yaitu : Pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya, karena kalau demikian tentu akan musnah. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong (encourage), memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.
Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering). Dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah lebih positif, selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana. Penguatan ini meliputi langkah-langkah yang nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta pembukaan akses kepada berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat masyarakat menjadi makin berdaya. Dalam rangka pemberdayaan ini, upaya yang amat pokok adalah peningkatan taraf pendidikan, dan derajat kesehatan serta akses kepada sumber-sumber kemajuan ekonomi seperti modal, teknologi, informasi, lapangan kerja, dan pasar. Masukan berupa pemberdayaan ini menyangkut pembangunan sarana dan prasarana dasar baik fisik, seperti irigasi, jalan, listrik, komunikasi, maupun sosial pendidikan, seperti sekolah, dan fasilitas pelayanan kesehatan yang diakses oleh masyarakat pada lapisan bawah, serta ketersediaan lembaga-lembaga pendanaan, pelatihan dan pemasaran di pedesaan, di mana terkonsentrasi penduduk yang keberdayaannya amat kurang. Untuk itu, perlu ada program khusus bagi masyarakat yang kurang berdaya, karena program-program yang umum yang berlaku untuk semua, tidak selalu dapat menyentuh lapisan masyarakat ini.
Pemberdayaan bukan hanya meliputi penguatan individu anggota kelompok, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern (seperti kerja keras, hemat, keterbukaan, kebertanggungjawaban) adalah bagian pokok dari upaya pemberdayaan ini. Demikian pula pembaharuan institusi-nstitusi sosial dan pengintegrasiannya ke dalam kegiatan pembangunan serta peranan masyarakat di dalamnya. Sungguh penting di sini adalah peningkatan partisipasi rakyat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan masyarakatnya. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat sangat erat kaitannya dengan pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi.
Ketiga, memberdayakan mengandung pula arti melindungi. Dalam proses pemberdayaan ini, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat. Oleh karena itu, perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah sangat mendasar sifatnya dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Dalam rangka ini, adanya peraturan perundangan yang secara jelas dan tegas melindungi golongan yang lemah sangat diperlukan.
Kemiskinan bukan saja berurusan dengan persoalan ekonomi tetapi bersifat multidimensional karena dalam kenyataannya juga berurusan dengan persoalan-persoalan non-ekonomi (sosial, budaya, politik). Karena sifatnya multidimensional itu maka kemiskinan tidak hanya berurusan dengan kesejahteraan sosial. Untuk mengejar seberapa jauh seseorang memerlukan kesejahteraan material dapat diukur secara kuantitatif dengan angka rupiah. Namun untuk memahami berapa besar kesejahteraan sosial yang harus dipenuhi seseorang ukurannya menjadi sangat relatif dan kuantitatif. Wallahua’lam bishowab
Penulis, kolumnis muda